Tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridlo Illahi
  • Menata Hati dengan Kelembutan Cinta

    “Alangkah nikmatnya jadi pemaaf, batin tenang dan lapang, urusan menjadi mudah dan tuntas, hidup bahagia dan mulia serta dicintai dan dihormati orang.”

  • Taqwa

    Jika kalian mengharapkan berkah Allah, berbuatlah baik terhadap hamba-hamba-Nya.

  • Keep Tawakal

    “Boleh jadi Allah mengabulkan harapan kita dengan tak memberi apa yang kita inginkan karena Dia Maha Tahu bahaya yang akan menimpa dibalik keinginan kita”

Tampilkan postingan dengan label ADAB & AKHLAQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADAB & AKHLAQ. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2015


بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي... فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُ

Kutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….

Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ... نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُ

Sungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….

Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا.... كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُ

Masa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…

Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً.... فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ

Aduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali….

Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya…



Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…

Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…

Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.

Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu 'alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya :)

وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ
"Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah" (HR Muslim)

Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.

Al-Munawi rahimahullah berkata :

خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan "masa muda" karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan" (Faidul Qodiir 4/88)

Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :

فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ

"Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat" (Fathul Baari 6/46-47)

Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda :

لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع

"Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…"

Diantaranya kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

"Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?"

Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan "Kemana kau habiskan masa mudamu".

Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….

Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com
Posted by Master Teknik Indonesia on 20.48 in    No comments »

Kamis, 17 September 2015



Mencintai Penanda Dosa
Oleh : Salim A. Fillah
Mari jadikan kisah berikut ini sebagai pelajaran, untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Apapun kondisinya. Bagaimanapun caranya. Terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, namun tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam penerapannya? Syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. Apabila yang berlabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sekadar berlabel ‘orang awam”?
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.
“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.
Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”
Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisi-Mu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhan-Mu nan Maha Rahman dan Rahim.
Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau,
“Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
Posted by Master Teknik Indonesia on 22.59 in    No comments »


siapa mau jadi wanita shaliha...?

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]

Betapa indahnya menjadi seorang wanita shalihah, Rasulullah SAW bahkan berwasiat:

§  Wanita yang membuat tepung bagi suami dan anak-anaknya, kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya dan Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya

§  Wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung bagi suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah

§  Wanita yang meminyaki dan menyisirkan rambut anak-anaknya dan mencuci pakaiannya, maka Allah tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang

§  Wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah membantunya untuk dapat minum dari telaga kautsar pada hari kiamat kelak

§  Yang utama dari seluruh keutamaan itu adalah keridhaan suami terhadap istri. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah

§  Saat seorang wanita mwngandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketiaka seorang Wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang dijalan Allah. Disaat wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya, seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat wanita meninggal saat melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah Haji dan Umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat

§  Saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, maka Allah akan menganpuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan padanya seratus kali beribadah haji dan umrah.

§  Saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih

§  Saat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

§  Saat seorang wanita meminyaki dan menyisirkan kepala suami, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya. Maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.

Nah.. Ilmu udah ada, motivasi udah OK, tinggal kurang satu. Praktek!!

*Semoga bermanfaat
Sumber : http://ummifadlah.blogspot.com
Posted by Master Teknik Indonesia on 01.42 in    No comments »

Rabu, 16 September 2015



SEBAGAI manusia biasa, memang seringkali kita melakukan banyak sekali kesalahan setiap harinya, bahkan mungkin setiap menit dan detik dalam helaan nafas kita. Namun semua itu tidak bisa dijadikan alasan untuk kita terus melakukan dosa-dosa yang akan menyeret kita menjadi teman syetan.
Selalu berhati-hati dan waspada dalam melangkah, menghindarkan diri dari perbuatan dosa itu sangat disenangi Allah Swt. Terutama untuk kaum hawa yang sangat riskan untuk melakukan berbagai dosa setiap harinya, hingga Rasulullah Saw pernah menyebutkan bahwa wanita-lah yang paling banyak masuk neraka.
Berikut ini adalah beberapa sifat yang harus dihindari sebagai wanita:
1. Wanita Ananah
Wanita yang banyak mengeluh. Apa yang diberikan atau dilakukan suami untuk rumah tangganya semuanya tidak membuatnya bahagia dan tidak berpuas hati.
2. Wanita Mananah
Wanita yang suka meniadakan usaha dan jasa suami, akan tetapi sebaliknya menepuk dada. Wanita ini beranggapan bahwa dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.
3. Wanita Hananah
Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain (bekas suaminya dahulu) yang dikawininya sebelum sekarang, atau kepada anak dari suaminya yang lain, dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang ada. Dengan kata lain, wanita seperti ini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita seperti ini mengufuri ni’mat pernikahan yang dianugerahkan Allah Swt. Dia juga merendahkan potensi dan kemampuan yang dimiliki suaminya.
4. Wanita Hadaqah
Melemparkan pandangan mata terhadap segala sesuatu, lalu menyatakan keinginan untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya. Selain itu, wanita ini suka mengikuti nafsunya. Wanita seperti ini membuat pusing kepala lelaki. Dia menginginkan apapun yang dia mau. Dia juga suka membandingkan dirinya dengan orang lain.
5. Wanita Basaqah
Sifat wanita ini memiliki dua makna:
a. Pertama, wanita seperti ini suka bersolek dan berhias diri. Namun sayangnya dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditujukkan kepada dunia. Dan biasanya wanita ini suka melawan suami. Uangnya dihabiskan untuk membeli make-up, pakaian dan perhiasan. Wanita seperti ini juga sangat suka dipuji-puji. Jika dia kebetulan menjadi istri orang ternama, menjadi ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengungguli dirinya.
b. Kedua, dia marah ketika makan dan tidak mau makan kecuali dipisah dengan yang lain. Dia tidak mau makan bersama-sama dengan orang lain.
6. Wanita Syadaqah
Wanita yang banyak bicara tentang perkara yang sia-sia dan membuat gaduh sekitar.
Sumber : ISLAMPOS.com
Posted by Master Teknik Indonesia on 18.35 in    No comments »



Siapakah Luqman?
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.” (QS. Luqman: 12).
Luqman adalah seorang lelaki yang dikaruniai hikmah oleh Allah berupa ilmu, agama dan kebenaran dalam ucapan. Dia memberi fatwa sebelum Dawud diutus dan sempat menjumpai masanya. Lalu Lukman menimba ilmu dari Nabi Dawud dan meninggalkan fatwanya sendiri.
Mujahid berkata,”Luqman adalah seorang budak hitam dari Habasyah, tebal kedua bibirnya, dan lebar kedua telapak kakinya. Pada suatu hari ketika dia duduk di majelis sedang berceramah kepada orang banyak, datanglah seorang lelaki menemuinya, lalu bertanya, ‘Bukankah engkau yang tadi menggembala kambing di tempat ini dan itu?’ Luqman menjawab, ‘Benar.’ Lelaki itu bertanya, ‘Lalu apa yang menghantarkanmu sampai pada kedudukan terhormat seperti yang kulihat sekarang ini?’ Luqman menjawab, ‘Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.’”

Jangan Berbuat Syirik

Allah bercerita tentang pesan Luqman,
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Luqman berpesan kepada anaknya untuk beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun karena syirik adalah dosa yang paling besar.

Allah Mengetahui Keadaan Hamba-Nya

Allah melanjutkan cerita Luqman,
“(Luqman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16).
Al-Qurthubi mengatakan, “Telah diceritakan bahwa putra Luqman bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Luqman menjawab dengan mengulangi jawaban semula dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Luqman: 16).

Dirikan Shalat, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Sabar

Luqman terus-menerus memberikan pengarahan kepada putranya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan dalam firman-Nya,
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).
Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Dirikanlah shalat lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Perintahkanlah yang baik dan cegahlah yang munkar sesuai kemampuan dan jerih payahmu. Karena untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itu, dalam pesan selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar.”

Jangan Sombong

Luqman juga berpesan,
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Makna ayat di atas menurut Al-Qurthubi, “Janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena sombong terhadap mereka, merasa besar diri, dan meremehkan mereka.” Maka yang dimaksud adalah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda diantara mereka berbicara dengannya, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan pembicaraannya. Demikian yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.

Bersikaplah Pertengahan

Pesan Luqman yang lain,
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).
Al-Qurthubi mengatakan, setelah Luqman memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlak tercela, ia lalu menggambarkan kepadanya akhlak mulia yang harus dikenakannya. Yakni bersikap pertengahanlah kamu dalam berjalan. Cara jalan pertengahan yaitu antara langkah cepat dan lambat. Hanya Allah yang lebih mengetahui makna yang dimaksud. Akan tetapi, Allah sendiri memuji orang yang bersikap demikian sebagaimana yang telah disebutkan keterangannya dalam surat Al-Furqan,
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (QS. Al-Furqan: 63).
“Lunakkanlah suaramu.” maksudnya kurangilah suaramu dari suara yang keras.Dengan kata lain, janganlah kamu memaksakan diri mengeluarkan suara yang sangat keras, tetapi dalam batasan seperlunya. Makna secara keseluruhan dari surat Lukman ayat 19 di atas ialah bersikaplah tawadhu’ atau rendah hati.
Allahu a’lam
***
Referensi: Islamic Parenting (mendidik anak metode nabi), Syaikh Jamal Abdurrahman)
Penyusun: Zulfa Sinta Filavati
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
sumber :  muslimah.or.id
Posted by Master Teknik Indonesia on 00.27 in    No comments »



Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama.

Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di elakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.
Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya.
Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.

Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.

Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:
1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).
Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”

2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:
  • Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
  • Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
  • Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.

Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:
  • Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang.
  • Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif.
  • Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.

Pengaruh nama pada anak
Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.
Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.
Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.
Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.
Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?

Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.

Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.


Sumber:dakwatuna.com
Posted by Master Teknik Indonesia on 00.24 in    No comments »

Senin, 14 September 2015




Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.
“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.
“Ada.” Jawab sang suami.
“Siapa?” tanya istrinya.
“Ubaid bin Umair. “Jawab sang suami.
Sang istri diam sejenak. Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.
“Wahai suamiku,” katanya merayu, “Bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”
Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihan seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”
Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.
Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah saw masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.
Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid.
Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.
“Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.
“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”
“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”
“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?”
Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya? dengan kematian. Kemudian menjawabnya “Tidak”.
“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”
“Tidak.” jawabnya.
“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Tidak.”
“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Tidak.”
“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawa?ban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”
“Demi Allah, tidak.”
“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”
Kini dia tak kuasa menahan air mata. Tadi dia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.
Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.
“Apa yang terjadi wahai istriku?” kata suaminya.
“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.
Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.
Mudah-mudahan ini ada manfaatnya..
Dari laman facebook Raehanul Bahraen.
Posted by Master Teknik Indonesia on 23.51 in    No comments »


''Dia adalah wanita yang sangat saleh. Bahkan, Nabi SAW sering mengunjungi dan beristirahat siang di rumahnya,'' begitulah Ibnu Sa'id melukiskan keagungan Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. 

Ia adalah istri Abu Thalib bin Abdul Muthalib – paman Nabi Muhammad SAW. Fathimah juga ibu kandung Khalifah ar-Rasyidin keempat, Ali bin Abi Thalib.  Fathimah adalah sosok wanita mulia yang telah mendukung dan membantu perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA

Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya berjudul Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW, mengungkapkan, Fathimah  merupakan seorang wanita  dengan ide-ide cemerlang, penuh kelembutan, pandai serta kehormatan dan kedudukannya yang melebihi wanita lain.

Ketika tahun 10 kenabian, Rasulullah SAW mengalami amul huzn yang berarti tahun kesedihan -- setelah meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah RA – Fathimah tampil menjadi sosok pengganti keduanya. Ia begitu mendukung dan membantu setiap perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam.

Fathimah membela Rasulullah SAW dari tekanan kaum Kafir Quraisy, hingga akhirnya berhasil hijrah ke Madinah.  Ia pun turut berhijrah ke kota suci kedua bagi umat Muslim itu bersama kaum Muslimin lainnya. Bagi Fathimah binti Asad, Madinah merupakan kota yang penuh dengan kebahagiaan serta kemuliaan, seperti halnya Makkah.

Dedikasi dan pengorbanan Fathimah dalam membela agama Allah SWT sungguh sangat ternilai. Ia sungguh wanita yang agung. Rasulullah SAW begitu menghormati sosok Fathimah, bibi, sekaligus besannya. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan Ibnu Abi Ashim dari dari Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abu Thalib dikisahkan bawah ketika Fathimah wafat, Rasulullah SAW mengkafaninya dengan bajunya.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, ''Sepeninggal Abu Thalib, saya belum pernah menemukan orang yang lebih baik padaku selain Fathimah bin Asad.''  Bahkan, Rasulullah SAW juga sampai turun ke liang lahat untuk kemudian membaringkan jasad wanita yang suci itu. Sehingga, terpancarlah cahaya Illahi dalam kuburannya dengan semerbak harum roh sucinya dan curahan rahmat Sang Pencipta.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat engkau berbuat kepada seseorang seperti yang engkau lakukan kepada wanita ini (Fathimah binti Asad).'' Lalu Rasulullah menjawab, ''Sesungguhnya, tidak ada orang yang lebih baik padaku setelah wafatnya Abu Thalib, selain dia.''

Begitu banyaknya kebaikan Fathimah, baik kepada Rasulullah maupun kepada puterinya,  sehingga  Nabi Muhammad SAW tak pernah melupakan sosok perempuan yang agung itu. Selama hidupnya, Fathimah memang dikenal sebagai sosok penolong agama Allah. Ia juga merupakan pendamping setia perjuangan Rasulullah SAW. Ia dikenal sebagai wanita yang mempunyai pengetahuan berlimpah tentang agama.

Kehidupannya, dipenuhi dengan aktivitas dakwah Islamiyah. Ia juga termasuk salah seorang Muslimah yang juga turut meriwayatkan hadis. Ia telah meriwayatkan sebanyak 46 hadis. Dalam kitab shahihain, menurut Ibrahim Saliim, Fathimah binti Asad meriwayatkan satu hadis Muttafaq 'alaih.

Mengenai waktu wafatnya Fathimah, para ulama berbeda pendapat. Menurut Ibnu Hajar, Fathimah binti Asad wafat sebelum hijrah Nabi SAW. Namun, berdasarkan pendapat yang diyakini kebenarannya, Muslimah agung itu tutup usia setelah turut hijrah menyusul Rasulullah SAW. Ia wafat dan dimakamkan di kota nabi, Madinah.

Hal itu dibenarkan oleh asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Fathimah masuk Islam di Makkah, lalu turut menyusul Rasulullah SAW ke Madinah dan meninggal dunia di kota itu. Fathimah binti Asad adalah wanita yang layak dicontoh para Muslimah sepanjang masa. Ia merupakan sosok perempuan yang istiqamah, tak mengenal lelah, membantu memperjuangkan agama Allah SWT.

Allah SWT memberi keutamaan kepada seseorang yang dikendaki-Nya. Sebab, hanya Dialah pemilik keutamaan yang paling agung.
Posted by Master Teknik Indonesia on 23.47 in    No comments »


Seperti yang telah kita ketahui, kaum wanita adalah kaum yang begitu dimuliakan dalam Islam sehingga segala sesuatu tentangnya begitu dijaga dalam aturan-aturan yang begitu terperinci. Namun, adakalanya wanita salah memahami makna ini dan mengartikan bahwa apa yang dikodratkan pada mereka adalah sebuah pengekangan.
Dan lihatlah kerusakan apa yang terjadi di kalangan wanita saat ini baik disadari atau tidak oleh mereka. Kerusakan yang akan membawa mereka pada balasan mengerikan di akhirat kelak. Tanpa bermaksud memojokkan atau menakut-nakuti kaum wanita, simaklah tulisan dari kabarmuslimah berikut, semoga dapat menjadi pelajaran untuk kita agar dapat lebih memperbaiki diri ke depannya.
—
Suatu ketika Ali bin Thalib bersama Fatimah, mendatangi Rasulullah SAW  dan melihat beliau sedang menangis. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah SAW menangis. Beliau menjawab; “Pada malam aku di-isra’-kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan di dalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan.”
Putri Rasulullah SAW itu, kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi SAW.
Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?
Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya.”
Perempuan yang digantung payudaranya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.
Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan mahramnya dan suka mengumpat orang lain.
Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan mahram dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan mahramnya.
Mendengar itu, Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.
Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuannya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat di depan orang lain.
Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya di alam jagat raya. Kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur`an dan hadits, balasannya adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al-Qur`an dan hadits, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.
Dalam sebuah hadits yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda:
“Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” (Hr. Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaannya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah ’Azza wa Jalla) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (Hr. Ibnu Khuzaimah no. 1685, Ibnu Hibban no. 5599, dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 2890, dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban)
Tabarruj akan membawa laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah SWT).” (Hr. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamush Shagir hlm. 232 dinyatakan shahih sanadnya dalam kitab Ilbaabul Mar`atil Muslimah hlm. 125)
Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
“Wahai istri-istri Nabi, tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Janganlah kalian keluar rumah dengan berdandan ala perempuan-perempuan jahiliah sebelum Islam datang. Laksanakanlah shalat, keluarkanlah zakat dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berkehendak menyelamatkan kalian dari semua perbuatan yang buruk, dan membersihkan jiwa kalian dari syirik sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 33)
Allah juga berfirman:
“Wahai Nabi, perintahkanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri kaum Mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka. Mengenakan jilbab itu agar mereka lebih mudah dikenal (sebagai perempuan shalihah) dan tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.” (Qs. Al-Ahzaab [33]: 59)
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai anak keturunan Adam, janganlah kalian tergoda oleh setan sebagaimana setan dahulu dapat mengusir ibu bapak kalian dari surga. Setan telah memperdaya ibu bapak kalian, sehingga setan dapat menampakkan aurat mereka berdua. Setan dan kelompoknya melihat kalian dari tempat yang tidak dapat kalian lihat. Kami telah menjadikan setan-setan itu tokoh panutan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-A’raf [7]: 27)
Wallahu a’lam.
Posted by Master Teknik Indonesia on 23.42 in    No comments »

Selasa, 11 Agustus 2015


ilustrasi @medansatu

Namanya Muhammad al-Hadhar Husain. Beliau adalah salah satu Syaikh al-Azhar yang dipilih oleh ulama-ulama yang terbukti kualitas keilmuan dan kadar ketakutannya kepada Allah Ta’ala. Oleh rezim berkuasa saat itu, beliau dipaksa untuk membuat fatwa sesat bagi Ikhwanul Muslimin.
Betapa beratnya beban yang dirasakan oleh sang Syaikh. Beliau diminta untuk menyatakan sesat kepada Pergerakan Islam yang memperjuangkan tegak-tingginya kalimat Allah Ta’ala. Bahkan, Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu yang terdepan dalam mengusir Zionis dari bumi jihad Palestina.
Lantas, apakah yang dilakukan oleh Syaikh al-Azhar ini? Apakah beliau membebek perintah rezim penguasa keji Mesir kala itu? Atau sebaliknya?
Kepada utusan penguasa keji itu, Syaikh Muhammad al-Hadhar Husain mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dari menjual surga dengan neraka.”
Demikian itulah keimanan. Ia melindungi pemiliknya dari ketergelinciran. Sebab, jika fatwa sesat itu dikeluarkan, maka seluruh pimpinan dan anggota Ikhwanul Muslimin bisa dengan mudah dipenjarakan dan digantung kepalanya oleh rezim takberperikemanusiaan itu.
Sebagai akibat penolakannya, predikat Syaikh al-Azhar pun dicopot. Kemudian, rezim penguasa mengangkat sosok lain yang diklaim sebagai ulama, padahal sejatinya penakut yang lebih membela dunia dan pernak perniknya.
Oleh ‘Syaikh’ al-Azhar yang baru ini, fatwa pun dikeluarkan. Katanya pongah penuh kebodohan, “Sesungguhnya hukuman bagi Ikhwanul Muslimin telah diketahui dalam syariat; mereka adalah orang-orang yang keluar dari Ulil Amri. Taubat mereka tidak diterima.”
Mengomentari ‘fatwa’ abal-abal bin bodoh ini, Dr. Abdullah Azzam berkomentar dalam Tarbiyah Jihadiyah, “Kalau mereka mengatakan, ‘Ikhwanul Muslimin telah keluar dari dari Ulil Amri’, maka kata-kata itu bisa diterima.”
“Akan tetapi, ucapan ‘Tidak diterima taubat mereka’ maka dari agama mana ia datangkan fatwa itu?” terang Dr Azzam selanjutnya, “Sungguh, ia telah menakwilkan al-Qur’an menurut hawa nafsu dan syahwatnya.”
Kemudian, beliau membaca ayat, “Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketauhilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Maidah [5]: 34)
Atas ‘fatwa’ yang dikeluarkan oleh ‘Syaikh’ al-Azhar yang tidak perlu disebutkan namanya ini, pungkas Dr. Abdullah Azzam, “Maka digantunglah Abdul Qadir Audah dan kawan-kawannya berdasarkan fatwa Syaikh al-Azhar pada bulan Desember 1954.”
Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa para pejuang yang tulus berjihad di jalan-Nya. Aamiin.
Posted by Master Teknik Indonesia on 08.57 in    No comments »

ilustrasi Berselisih @internationalbusinessnewsweek

Jangan berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala, seberapa banyak pun dosa yang kita miliki. Sebab Dia Maha Pengampun. Maka, bergegaslah hijrah dari dosa menuju ampunan, dari maksiat menuju ibadah dan pahala, dari gelap menuju cahaya.
Ada sebuah kisah masyhur tentang pendosa yang disebutkan dalam banyak kitab, di antaranya adalah Shahih Imam Bukhari, Shahih Imam Muslim, dan Tafsir Ibnu Katsir. Kisah hijrah tentang seorang pendosa menuju pertobatan dan ampunan Allah Ta’ala. Sayangnya, ajal mendahuluinya sebelum tiba di tempat tujuan hijrahnya itu. Lantaran inilah, dua malaikat pun berselisih. Lantas, siapakah yang dibenarkan/dimenangkan oleh Allah Ta’ala dari dua malaikat tersebut?
Bukan main, sudah sembilan puluh sembilan nyawa yang mati di tangannya. Dibunuh. Nuraninya pun memberontak. Ia hendak bertobat. Maka, didatangilah ahli ibadah di zamannya. Sampainya di rumah sang ahli ibadah, ia menyampaikan pengalaman pahit kehidupannya, dan bertanya penuh harap, “Adakah harapan bagiku untuk mendapatkan ampunan?”
Rupanya, sosok yang katanya ahli ibadah itu menukasi ketus, “Terlaknatlah kau. Jangankan sembilan puluh sembilan nyawa. Bahkan satu nyawa pun amat susah pengampunannya.”
Kesal, sang ahli ibadah pun meregang nyawa di tangannya. Dibunuh oleh si lelaki. Hingga genaplah jumlah terbunuh di angka keseratus. Kemudian, ia mendatangi ahli ibadah lain, guna mencari hidayah, berharap mendapatkan petunjuk menuju ampunan Allah Ta’ala. Oleh ahli ibadah kedua ini, ia disarankan untuk menuju suatu tempat (kota) agar bisa terhindar dari kebiasaan buruknya itu.
Maka bergegaslah si pembunuh menuju tempat yang ditunjukkan. Di tengah perjalanan, setelah melalui beberapa jarak, ia dijemput ajal. Meninggal dunia. Padahal, belum tuntas maksud hijrah pertobatannya itu. Karena kejadian ini, dua malaikat pun berselisih.
Dikatakan oleh Malaikat Rahmat, “Ia datang dalam keadaan bertobat.” Kemudian Malaikat Adzab menukasi, “Dia belum sampai.” Lantas, keduanya pun diminta oleh Allah Ta’ala untuk mengukur; seberapa jauh jarak dari tempat hijrahnya sampai tempatnya meninggal dunia, dan tempat meninggalnya menuju tempat tujuan hijrahnya.
Ketentuannya, jarak yang lebih dekat (dengan tempat hijrah atau tujuan hijrah) adalah ketentuan bagi si lelaki pembunuh itu.
Selepas dilakukan pengukuran, jarak antara tempat meninggal dengan tujuan hijrah lebih dekat dari jarak tempat hijrah dengan tempat meninggalnya. Karenanya, Malaikat Rahmat berhak atasnya. Allah Ta’ala mengampuni dosa lelaki itu.
Itulah hijrah yang tulus. Itulah pertobatan yang murni. Itulah niat yang ikhlas. Allah Ta’ala akan berikan pahala terbaik sebagaimana yang diniatkan. Di dalam satu riwayat disebutkan, “Ketika kematian datang menjemputnya (saat sakaratul maut), dia berupaya dengan dadanya untuk mendekat ke tempat tujuan hijrahnya.”
Posted by Master Teknik Indonesia on 08.51 in    No comments »

zina

Lelaki ini bernama al-Kifl. Seorang Bani Israil. Pelaku kriminal, suka berjudi, bermaksiat, zina, dan semua jenis kejahatan lainnya. Al-Kifl, disebutkan oleh Dr Muhammad Ismail Muqaddam dalam Fikih Malu, “Tidak bisa mencegah dirinya dari berbuat dosa.”
Suatu malam, al-Kifl mendatangi seorang wanita untuk memuaskan nafsunya. Tak lama setelahnya, ia pun menemukan wanita yang dinginkan oleh nafsu buruknya itu. Diajaklah ke tempat yang telah disiapkannya, berdua. Kepada wanita yang bisa puaskan nafsunya itu, al-Kifl menyediakan 60 Dinar, setara dengan 120.000.000 rupiah (kurs 1 dinar= 2 juta).
Ketika al-Kifl bergegas melampiaskan hasrat busuknya, tiba-tiba wanita itu menangis sejadi-jadinya, tanpa sebab. “Apa yang membuatmu menangis?” tanya al-Kifl penuh keheranan.
“Berzina adalah pekerjaan yang belum pernah aku lakukan.” jawab wanita itu sembari menahan isaknya. Terangnya kemudian, “Tak ada yang memaksaku melakukan perbuatan keji ini, kecuali kebutuhan ekonomi yang amat mendesak.”
Tanya al-Kifl untuk kedua kali, “Apakah kamu menangis karena takut kepada Allah Ta’ala?”
“Akulah,” terang lelaki keturunan Bani Israil itu, “yang seharusnya menangis dan takut kepada Allah Ta’ala.”
Ia pun mempersilakan wanita itu pergi sebelum menuruti nafsu bejatnya. Kepadanya, al-Kifl berikan uang yang dibutuhkannya. Kemudian, ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bermaksiat kepada Allah Ta’ala selamanya.”
Qadarullah, malam itu juga al-Kifl meninggal dunia. Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya, bahwa pengampunan kepada Bani Israil diberikan oleh Allah Ta’ala dengan bentuk tulisan yang ada di pintu rumahnya.
Maka pagi harinya, sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab ini, “Keesokan harinya, tertulis di pintu rumahnya, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengampuni dosa al-Kifl.’”
Disebutkan pula dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi ini, “Orang-orang pun kagum melihat hal itu, hingga Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada salah seorang Nabi dari mereka tentang kisah al-Kifl.”
Keseluruhan kehidupan dan akhirnya adalah misteri. Hanya Allah Ta’ala yang tahu. Karenanya, kita harus senantiasa berdoa dan bersungguh-sungguh agar ditetapkan dalam iman dan Islam hingga akhir hayat. Sebab hanya dengan itulah kita berhak mewarisi surga yang lebih luas dari langit dan bumi serta penuh kenikmatan tanpa batas.
Posted by Master Teknik Indonesia on 08.46 in    No comments »

Rabu, 05 Agustus 2015


MENCIUM BAU SORGA ( Indahnya Husnul Khotimah II )

Sahabat , indicator kesuksesan kita di Kehidupan Akhirat kelak dapat dilihat ketika dalam detik-detik terakhir hembusan nafas kita sampai keluarnya Ruh dalam diri kita. Akankah kita sukses melaluinya ? adakah amal andalan yang sudah kita persiapkan untuk melaluinya ? Pernahkah kita terfikir untuk membuat PLANNING SUKSES AKHIR HAYAT ? ataukah kita tidak pernah terfikir sama sekali ?

Ketika Hembusan Akhir Nafas kita Indah maka akan indahlah Kehidupan Akhirat kita kelak, sebaliknya ketika Hembusan Akhir Nafas kita biasa saja atau bahkan tidak enak dipandang mata, maka Sukses Hidup Kita di Akhirat akan masih mungkin terselamatkan dengan 3 hal : Anak Yang Sholeh yang senantiasa mendo’akan kita, Sedekah Yang tersistem Yang mampu menyelamatkan banyak orang dan Ilmu Yang Membekas dan bermanfaat untuk kebaikan dan kesejahteraan orang banyak.

Kadang amalan-amalan kecil tapi dilakukan dengan berkesinambungan dan penuh ketulusan mampu mengantar kita menuju SUKSES AKHIR HAYAT , namun jika kita mampu membuat Karya Prestatif yang besar untuk Suksesnya Akhir Hayat kita itupun kita harus lakukan. Kisah berikut ini semoga dapat memotivasi kita untuk serius membuat PLANNING SUKSES AKHIR HAYAT.

Seorang Dokter bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta'ala.

Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat." (Ibrahim : 27)

Ia melanjutkan kisahnya :

"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.


Subhanalllah ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.

Sahabat-Sahabat tercinta ... kisah belum selesai...

Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah kita apa jawabnya?

Apakah kita mengira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya atau discotik? Atau duduk di depan layer televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan merokok? Menurut kita kira-kira apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang saya yakin bahwa kita semuapun mengidam-ngidamkannya; meninggal dengan mencium wangi surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."


"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fhushilat:30- 32)
Posted by Master Teknik Indonesia on 01.02 in    No comments »

Senin, 03 Agustus 2015


pulang ke kampung akhirat

pernahkah sesekali kita merasakan bagaimana kalo kita pulang kampung pake Kereta Api Ekonomi atau kapal laut kelas Ekonomi ? mulai beli tiket kita sudah ngantri panjang seharian belum lagi harus berhadapan dengan calo-calo dan para pencopet yang mencari-cari kesempatan kita lengah, pada hari H keberangkatan betapa sangat tidak tertibnya para penumpang akan masuk dan mencari tempat duduk, siapa yang kuat dialah yang dapat, sesampai nya kita diatas kendaraan tersebut betapa panas, sumpek, gerah, bau, asap rokok campur jadi satu, belum lagi berisiknya para pedagang , pengamen dan pengemis yang seringkali menawarkan jasanya dengan sedikit memaksa,  yach…. Capek, lelah bahkan akan stress bagi yang tidak terbiasa cuek dan menikmati itu semua.

Lalu mengapa bagitu banyak kita mau berbondong-bondong naik Kereta Api  Ekonomi dan Kapal Kelas Ekonomi ? karena  murah ? bukan !, yang jelas karena kita KURANG BEKAL, kalo BEKAL kita LEBIH pasti kita tidak akan mau naik kendaraan Ekonomi. Siapa sih yang gak mau naik kendaraan Super Excutive ? beli  tiketnya tinggal telepon, ruang tunggunya ber-AC, nyaman dan full fasilitas, naik kendaraannya tertib, diatas kendaraan kita terjamin, kursi lega bisa tidur nyenyak dan nyampai tujuannya lebih cepat diantar lagi sampai tempat yang kita tuju. Wah gila aja kalo kita gak pingin.
Sahabat, kita semua seringkali rindu pulang kampung, ketemu, orangtua, keluarga atau sahat-sahabat kecil kita dulu, ingin sekali kita membahagiakan mereka dengan membawa kabar gembira dan oleh-oleh atau hadiah, semua itu bisa kita lakukan kalo adalah orang SUKSES dan KELEBIHAN BEKAL, maka kepulangan kita akan selalu dinanti dan dirindu, kita akan disambut dengan penuh senyum dan keramahan.

Sebegitu rindunyalah kita dengan Kampung Halaman tempat kita lahir dan dibesarkan, padahal di Kampung itu tidak banyak yang bisa kita nikmati.

Sahabat, tidak rindukah kita dengan sebuah Kampung kita yang sesungguhnya ? luasnya seluas Langit dan Bumi, di sana ada sebuah ISTANA dengan segala macam bentuk kenikmatan yang  jauh melebihi kenikmatan-kenikmatan yang pernah kita rasakan selama hidup di Dunia ini, ada wanita-wanita yang sangat-sangat cantik yang selalu terjaga kesuciannya, tidak pernah pacaran apalagi disentuh oleh lawan jenisnya, ada perjaka-perjaka yang sangat-sangat tampan, gagah dan perkasa yang selalu muda dan selalu menggoda selera, dibawah Istana itu mengalir sungai-sungai yang sangat jernih dan sejuk dikelilingi dengan panorama Alam yang sangat luas dan mempesona kita bisa mandi dan bermain sepuas-puasnya bersama 40 wanita perawan atau bersama  40 perjaka rupawan tanpa ada seorangpun yang mengganggu, kita bisa orgasme berjuta-juta kali dalam sehari tanpa ada istilah kehabisan energy, di kanan kiri sungai itu ada pohon-pohon buah yang beraneka warna dan rasa, buah-buah itu selalu mendekat dengan kita ketika kita menginginkannya, tak ada istilah kekenyangan walau ribuan buah kita makan dalam sehari. dan segala macam keinginan kita disana selalu tersaji dan tersedia dengan sangat cepat. Itulah yang kita sebut KAMPUNG AKHIRAT

Kita bersama triliunan orang dari seluruh ummat dari mulai ummat Nabi Adam sampai Ummat Nabi kita Muhammad saat ini, akan berjalan menuju kesana ke Kampung Akhirat dengan berjalan kaki tanpa alas kaki dan tanpa sehelai kainpun menempel ditubuh kita, seluruh ummat tersebut termasuk kita akan berjalan menuju ISTANA yang dijanjikan tersebut, namun kita akan bisa memasuki  ISTANA itu kalau kita mempunyai KUNCInya, dan Kunci itu harus kita Ambil kepada Sang Pencipta ISTANA tersebut, namun kita semua selalu bertanya-tanya sendiri dengan penuh kekhawatiran, “ Mungkinkah Kita akan dapatkan salah satu kunci dari Istana itu ? nomor berapakah kiranya Kunci Istana Kita ?, lalu sampai kapan kita akan dipanggil menghadap sementara sekian Triliun orang ikut ngantri mendapatkannya ? “.

Semua orang menunggu antrian yang sangat panjang di sebuah PADANG MAHSYAR yang sangat luas dan teramat sangat panas membakar kulit-kulit kita, keringat kita mendidih, kulit kita hangus melepuh, tak ada jual makanan apalagi restoran, tak ada jual air mineral apalagi es cream, tak ada jual obat apalagi rumah sakit, diantara kita berjalan ngesot, ada yang merangkak, ada yang tegak ada juga yang terbalik dengan membawa beban beban yang sangat berat yaitu harta benda yang dulu dititipkan Allah kepada kita namun kita lupa atau tidak sempat mengembalikannya. Duh betapa sangat menderitanya kalau hal itu terjadi pada diri kita, na’udzubillahi min dzalik.

Diantara triliunan orang yang mengantri itu tiba-tiba kita melihat ada orang-orang yang mengantri tapi berpakaian rapi, diatas kepalanya ada naungan mendung yang begitu sejuknya sambil sesekali ada rintik-rintik hujan membasahi kepalanya, di kanan kirinya ada pelayan yang senantiasa memenuhi kebutuhannya, dia duduk santai diatas dipan yang nyaman sambil tiduran, duh.. betapa senangnya kalau orang itu ada kita !. siapa sajakah orang-orang yang akan mendapat naungan itu ? Rosulullah SAW bersabda :

“Ada tujuh golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menaungi mereka di bawah naungan ‘Arsy-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan ‘Arsy-Nya. Mereka adalah
(1) Pemimpin  yang adil (kepemimpinnanya hanya untuk mengupayakan kesejahteraan dan keselamatan Dunia Akhirat terhadap semua orang yang dipimpinnya),
(2) Pemuda yang kokoh dalam idealisme memegang teguh aturan Allah (tidak tergiur dengan glamournya gaya hidup duniawi ),
(3) orang yang hatinya terkait dengan Masjid ( selalu merindukan saat meeting special dengan Allah di Masjid dalam sholat berjama’ah ),
(4) orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
(5) seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik, namun dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, dan sebaliknya
(6) orang yang bersedekah namun merahasiakannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya
(7) orang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan sendirian hingga berlinang air matanya.” (Hadits. Muttafaqun ‘alaih)

Lalu tiba-tiba diatas kita juga terlihat sekelompok orang dalam antrian itu yang terbang melesat menuju kearah yang sama dengan kecepatan tinggi dan dikawal oleh para Bidadara atau Bidadari harum mewangi dengan senyuman dan lambaian tangan yang menggambarkan kebahagiaan yang teramat sangat, subhaanallah betapa bangga dan bahagianya kalau orang itu adalah kita ! siapa sih mereka itu ?

Daialah orang yang menjual diri dan hartanya di Jalan Allah, semua potensi dirinya, waktunya serta seluruh daya dukung yang dimilikinya dikorbankan hanya untuk bagaimana Islam dan Sytem Allah ini tegak di muka Bumi ini, seluruh hidupnya hanya untuk RIDHO ALLAH & AKHIRAT ORIENTED. Baginya di dunia kerja menderita dan sengsara karena berbagai tekanan system dan otoritas tak akan begitu dirasa karena semua hasilnya akan dia investasikan sepenuhnya untuk pesta pora di Akhiratnya. Baginya semua orang membenci dan mencaci semua rintisan kerja dan hasil karyanya tak akan menyurutkan langkahnya asal Allah tetap tersenyum atas segala yang dilakukannya. Tak ada istilah pensiun dalam berjuang dan berkarya hingga ia melihat Islam dan System Allah tegak di Bumi yang ia pijak, baginya Gagal atau Sukses menumbangkan system Setan yang telah mengangkangi Dunia saat ini tak akan menyurutkan langkahnya hingga nyawa tercerabut dari raganya.

Sahabat, hanya orang-orang luar biasa yang mampu meraih sesuatu impian yang luar biasa, kita mungkin orang yang biasa-biasa saja tapi cara hidup dan tujuan hidup kita harus luar biasa, kita harus meninggalkan dunia ini sebagai orang yang luar biasa kemudian hidup kembali sebagai orang yang teramat istimewa, semuanya itu harus dalam pandangan Allah bukan sudut pandang manusia dengan segala gaya hidupnya.
Posted by Master Teknik Indonesia on 21.17 in    No comments »

Share

Facebook Twitter

Search