
Kemuliaan Qana’ah
Diringkas oleh: Ummu ‘Athiyah
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Abu Salman
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Abu Salman
Allah
subhanahu wa ta’ala telah menciptakan kematian dan kehidupan ini, untuk
menguji siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya, hal ini telah
Allah sebutkan dalam kitabnya yang agung dalam surat Al Mulk ayat 2:
“Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Adapun
makna ayat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu
Katsier dalam tafsirnya bahwa “Allah telah menciptakan seluruh makhluk
ini dari ketiadaan, untuk menguji jin dan manusia, siapakah diantara
mereka yang paling baik amalnya.” Kalau demikian apakah kita akan
terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan lupa memperbaiki
amal-amal kita?
Dalam
Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah membawakan sebuah hadits yang terdapat
dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, riwayat Al-Miswar bin Syaddad
tentang perumpamaan dunia dan akhirat. Dalam hadits ini, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Dunia
ini dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang
diantara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia
melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali.”
(Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Peringatan
tentang hakekat dunia juga disebutkan oleh Abul-Ala’, dia berkata: “Aku
pernah bermimpi melihat seorang wanita tua renta yang badannya
ditempeli dengan berbagai macam perhiasan. Sementara orang-orang
berkerumun di sekelilingnya dalam keadaan terpesona, memandang ke
arahnya, Aku bertanya, “Siapa engkau ini?” Wanita tua itu menjawab,
“Apakah engkau tidak mengenalku?” “Tidak,” jawabku “Aku adalah dunia,”
jawabnya. “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu,” kataku. Dia
berkata, “Kalau memang engkau ingin terlindung dari kejahatanku, maka
bencilah dirham (uang).”
Sesungguhnya
Allah telah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal bagi kita selaku
hamba Allah. Dan apa yang ada diatas bumi ini seperti pakaian, makanan,
minuman, pernikahan dan lain-lain merupakan santapan bagi kendaraan
badan kita yang sedang berjalan kepada Allah. Barangiapa di antara
manusia yang memanfaatkan semua itu menurut kemaslahatannya dan sesuai
dengan yang diperintahkan Allah maka itu adalah perbuatan yang terpuji.
Dan barangsiapa yang memanfaatkannya melebihi apa yang dia butuhkan
karena tuntutan kerakusan dan ketamakan maka dia pantas untuk dicela.
Wahai
hamba Allah, setelah kita mengetahui hakekat dunia dan bagaimana
seharusnya kita bersikap dengan dunia ini, akankah kita tetap akan
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan kita jadikan harta tersebut
sebagai tujuan hidup kita???
Suri
tauladan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah
mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta,
yaitu menyikapi harta dengan sikap qana’ah (kepuasan dan kerelaan).
Sikap qana’ah ini seharusnya dimiliki oleh orang yang kaya maupuan orang
yang miskin adapun wujud qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian
Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat
apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda
dengan menghalalkan semua cara, sehingga dengan semua itu akan
melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Tentang sikap
qana’ah, Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam
Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Beruntunglah
orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan
diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.”
(Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy)
Ketahuilah
wahai saudariku sesungguhnya di dalam qana’ah itu ada kemuliaan dan
ketentraman hati karena sudah merasa tercukupi, ada kesabaran dalam
menghadapi hal-hal yang syubhat dan yang melebihi kebutuhan pokoknya,
yang semua itu akan mendatangkan pahala di akhirat. Dan sesungguhnya
dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia
tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah.
Perbuatan
qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap makanan yang
ada, meskipun sedikit laku pauknya, dan cukup dengan beberapa lembar
pakaian untuk menutup aurat kita. Maka hendaklah dalam masalah keduniaan
kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan
akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah
ditegaskan Rasulullah dalam hadits yang artinya: “Lihatlah orang
yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena
yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina
nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim dan
At-Tirmidzy)
Sikap
qana’ah ini hendaklah kita lakukan dalam setiap kondisi, baik ketika
kita kehilangan harta maupun ketika mendapatkan harta. Barangsiapa yang
mendapatkan harta maka haruslah diikuti dengan sikap murah hati,
dermawan, menafkahkan kepada orang lain dan berbuat kebajikan. Marilah
kita tengok kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah: Telah
diriwayatkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, bahwa beliau adalah orang yang lebih cepat untuk berbuat baik
daripada angin yang berhembus. Selagi beliau diminta sesuatu, maka
sekali pun tidak pernah beliau menjawab. “Tidak” Suatu ketika ada
seseorang meminta kepada beliau. Maka beliau memberinya sekumpulan domba
yang digembala di antara dua bukit. Lalu orang itu menemui kaumnya dan
berkata kepada mereka: “Wahai semua kaumku, masuklah Islam! Karena
Muhammad memberikan hadiah tanpa merasa takut miskin.”
Subhanallah
sungguh indah pahala yang Allah janjikan terhadap hambaNya yang
memiliki sikap qana’ah, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah
agar kita di anugrahi sikap qana’ah dan dijauhkan dari sikap kikir dan
bakhil.
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan
kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan
hutang dan penguasaan orang lain.”
“Ya
Allah, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela)
terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah
kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku
dengan lebih baik.”
Referensi:
Hisnul Muslim min Udzkuril Kitaabi wa Sunnati oleh Sa’id Bin Wahf Al-Qahthani
Terjemah Minhajul Qashidin; “Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk”
Terjemah Tafsir Ibnu Katsier terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah– Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas
***
Terjemah Minhajul Qashidin; “Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk”
Terjemah Tafsir Ibnu Katsier terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah– Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas
***
**sumber: muslimah.or.id




0 komentar:
Posting Komentar